PROSES ADAPTASI DIRI SANTRIWATI BERLATAR BELAKANG MUHAMMADIYAH DAN NAHDLATUL ULAMA DI TMI AL-AMIEN PRENDUAN
Abstract
Adaptasi merupakan proses atau cara organisme dalam mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Proses ini sangatlah dibutuhkan bagi individu dalam mempertahankan kenyamanannya di suatu habitat, tempat tinggal atau lingkungan baru. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa pondok Pesantren Al-Amien Prenduan memiliki semboyan yaitu “Berdiri di atas dan untuk semua golongan” maka hal-hal yang sudah ditetapkan dan berjalan sebagaimana mestinya sama sekali tidak dapat diubah atas dasar faktor apapun, namun di sini kita harus memahami bahwa meski adanya sedikit perbedaan kebiasaan antar beberapa golongan dan tidak mengarah kepada hal yang fatal sehingga menciptakan kerusakan, maka adaptasilah jalan satu-satunya untuk menuju ke arah yang baik, benar, dan insyaallah khusnul khotimah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana adaptasi diri antara santriwati denga latar belakang Muhammadiyah dan NU dalam bermu’amalah di lingkungan TMI Al-Amien Prenduan ini, dan lebih menekankan lagi pentingnya semangat toleransi antar satu sama lain atau antar dua bagian tersebut bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk saling memahami antar satu sama lain terutama dalam hal belajar, beribadah, dan bermu’amalah di lingkungan dimana kita mencari ilmu dan lebih fokusnya lagi di TMI ini, kita juga dapat mengetahui keluhan dan kesulitan apa saja yang keduanya alami dan keduanya rasakan dalam melaksanakan tugas mereka di pondok. Jenis penelitian ini adalah kualitatif lapangan dengan pendekatan studi korelatif. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan wawancara, dan observasi. Analisis datanya menggunakan metodis (metode non statistik). Subjek penelitian ini adalah beberapa dari santriwati kelas akhir angkatan XXXIII tahun 2022. Kendala yang dialami oleh santriwati dalam proses adaptasi diri di lingkungan TMI ini lebih cenderung didasakran oleh santriwati dengan latar belakang Muhammadiyah dibanding NU, penyebabnya adalah sedikit banyaknya yang di kerjakan oleh golongan Muhammadiyah ini tidak mengarah pada sunnah atau bisa disimpulkan bahwa mayoritas dari golongan ini lebih meninggalkan hal-hal yang sunnah jadi sedikit banyak kesulitan yang mereka alami dan rasakan, seperti bacaan-bacaan terutama dalam praktek ibadah amaliyah dan penyetoran SKIA . Seperti pada bacaan takbiratul ihram, tahiyat, tahlil dan penggunaan qunut berbanding dengan yang golongan NU yang memang pada dasarnya sudah melaksanakan sunnah-sunnah yang di ajarkan oleh nabi jadi besar kemungkinan mereka ada sedikit keringanan untuk hal seperti diatas.
References
Farid Mas’udi, Masdar. Membangun NAHDATUL ULAMA’ Berbasis Masjid Dan Umat. Jakarta: LTMI-NAHDATUL ULAMA’, 2007.
Idris Jauhari, Muhammad. Tarbiyatul Muallimien Al-Islamiyah. Prenduan: PT. Mutiara press, n.d.
Mu’arif. Bermuhammadiyah Secara Kultural. Yogyakarta: PT Surya Sarana Utama, 2004.
Rukiati Enung, K. Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia. Bandung: CV. Pustaka, 2006.
http://journals.ums.ac.id/index.php/jpis/article/download/8204/5044 Hamzah, di akses pada tanggal 17 juli 2021, pada pukul 21:51
Refbacks
- There are currently no refbacks.


